Inbound

  • Related

  • Warnet, akankah senasib dengan Warteg dan Wartel ?

    Seperti yang kita ketahui secara umum, bahwa ketika marak bermunculan restoran berkelas dan cepat saji – warung makan kecil makin terlupakan dan tersingkirkan (kecuali bagi mereka yang hanya mampu untuk jajan di tempat itu). Dan ketika harga telepon seluler/genggam semakin murah – sim card makin murah – dan harga pulsa makin terjangkau, bisnis warung telepon/telekomunikasi pun berguguran.

    Hal ini memiliki dampak sistemik (Wehehehe, jadi kata yang umum sekarang ya…) yang sangat luas, baik bagi penjual jasa/produk maupun kepada konsumen pada proporsinya.

    Sebenarnya dua analogi diatas memiliki faktor yang berbeda dalam prosesnya. Jika Warteg versus Restoran adalah persaingan fasilitas dan gengsi (karena pada kenyataan, restoran tetap lebih mahal). Sedangkan ketika Wartel dimusnahkan oleh handphone yang makin merakyat, adalah karena murah dan praktis.

    Lalu bagaimana dengan nasib Warnet (Warung Internet) nanti?

    Ketika fasilitas internet pun bisa kita nikmati melalui handphone kita. Kirim email, main Facebook, Chatting, dan lain sebagainya bisa begitu mudah – murah – dimana saja dan kapan saja.

    Ketika harga modem GPRS, 3G, HSDPA dan HSUPA semakin terjangkau.

    Ketika gerbang perekonomian global telah dibuka luas, maka perangkat-perangkat pendukung koneksi internet pun makin murah dan terjangkau. Bagaimana tidak, jika Modem 3G merek Cina saja harganya cuma 300 ribu rupiah saja. Dengan biaya akses internet unlimited ala Telkomselflash atau IM2 yang hanya sekitar 100 ribu rupiah per bulan, tentu saja bisnis warnet sudah mulai terancam punah.




    Dengan beberapa aspek yang menjadi perhitungan, memang kondisi bisnis usaha warnet sedang dalam ancaman kepunahan oleh akses internet murah ala operator seluler di Indonesia. Bayangkan jika anda sebagai pengguna warnet, hitung saja jika anda menggunakan jasa warnet satu jam seharga 3000 rupiah, berapa yang mesti anda keluarkan untuk biaya akses internet 2 jam per hari selama satu bulan (30 hari). Totalnya adalah Rp. 180.000,- alias lebih mahal sedikit daripada harga akses internet operator seluler tanpa batas waktu penggunaan (unlimited) yang hanya Rp. 125.000,- per bulan.

    Masih berpikir untuk tetap menggunakan jasa warnet untuk kehidupan dunia maya anda?

    Namun ada beberapa aspek yang perlu dipertimbangkan kembali sehubungan kelestarian bisnis usaha warnet dari sudut pandang pengguna Indonesia;

    1. Meskipun harga komputer dan aksesoris pendukung koneksi internet semakin murah, tapi pengetahuan menggunakan komputer tetap saja mahal. Orang awam tentu tidak mau direpotkan oleh beberapa pengaturan untuk segera terhubung ke dunia maya.
    2. Kalkulasi yang dijelaskan diatas tentu diluar perhitungan biaya listrik jika menggunakan koneksi internet sendiri.
    3. Pemikiran mengeluarkan uang sedikit tapi sering masih lebih diterima khalayak umum ketimbang mengeluarkan uang banyak dalam sekali bayar.
    4. Beberapa masalah dalam penggunaan dan proses selama berselancar di dunia maya belum tentu bisa diatasi sendiri, perlu bantuan orang lain seperti operator warnet yang sudah paham atau terbiasa.
    5. Kita mungkin masih berpaham untuk tidak hanya membayar jasa/produk saja, kita juga ingin menikmati suasana berbeda. Dengan ber-internet di warnet, ada situasi tersendiri yang mendukung mood kita untuk berselancar dan menghabiskan waktu lebih lama.
    6. Selain karena kualitas modem yang ‘murahan’ dan sinyal internet melalui jaringan operator seluler yang masih datang dan pergi seenaknya, kondisi geografis Indonesia memang sedikit banyak menghambat kelancaran akses. Ah, tinggal jalan sebentar ke warnet – loading gak pakai lama.

    Dari beberapa pandangan diatas, tentunya kita bisa menyimpulkan bahwa bisnis usaha warnet masih memiliki peluang dan umur lebih lama, ketimbang masa transisi kedua saudaranya (warteg dan wartel).

    Tapi tentu saja semua pandangan tersebut kembali kepada metode dan strategi bisnis yang dijalankan. Fasilitas apa yang berani anda tawarkan pada pelanggan, apa lagi yang anda jual selain hanya jasa warnet (permudah konsumen untuk mendapatkan segala keinginan dan kebutuhannya), dan beberapa trik lain yang bisa terus mempertahankan bisnis warnet anda.

    Perhatikan bagaimana strategi setiap pengusaha restoran cepat saji yang bisa tetap mempertahankan pelanggan ditengah gempuran restoran-restoran serupa lainnya.

    Atau bagaimana penjual jamu masih bertahan ditengah gempuran obat-obat modern sekarang ini.

    Artikel ini saya tulis bukan karena saya sebagai pemilik sebuah usaha warnet, melainkan sebagai pengguna setia warnet dan saya sedang tertarik untuk menjadi salah satu dari pengusaha warnet. Tentu saja membutuhkan strategi dan metode tersendiri untuk mengantisipasi ketatnya bisnis warnet yang makin menjamur dan ancaman koneksi internet pribadi yang makin murah.

    Mungkin ada rekan-rekan yang bisa berbagi ide dan saran mengenai usaha warnet, silakan berbagi bersama. Dan mungkin ada yang ingin membagi rejekinya untuk modal saya, saya terima dengan senang hati :) :)

    Share this to your friends

    Leave a Reply

      

      

      


    You can use these HTML tags

    <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

    Maximum 2 links per comment. Do not use BBCode.