Dalam pergaulan, Shinta harus mengalami pergeseran alur kehidupan. Terutama dalam kasus kesenjangan status sosial dan ekonomi di lingkungan kampus. Tak jarang dia merasa dipingirkan karena perbedaan strata tersebut.
Tapi Shinta bukanlah gadis cengeng yang meratap ketika gelombang ketidakberpihakan bertubi-tubi merajam dirinya. Toh, selalu ada saja orang yang sedia berteman dan berbagi dengan dirinya. Mereka adalah sahabat sejati yang setia dalam suka maupun duka.
Meski kadang kesalahpahaman menghujam dan sempat memisahkan antara mereka. Daun yang gugur akan berganti dengan daun segar lainnya, dan daun yang gugur itu pun akan kembali menjadi bagian sebagai pupuk alami.
Sudah menjadi kodrat bahwa psikologi perempuan tumbuh lebih cepat daripada psikologi laki-laki. Dan dia harus belajar menempatkan dirinya bahwa dia lebih dewasa dari laki-laki seusianya. Tapi tak menjaga jarak, karena semua adalah udara yang ia butuhkan dalam menjalani kehidupan liar ini.
Termasuk menghadapi Rama yang kelak akan menjadi madu, sekaligus racun dalam kehidupannya.
Bersambung…















![Validate my RSS feed [Valid RSS]](valid-rss.png)

