Inbound

  • Related

  • Progresi

    Dan apa yang ditakutkan pun akhirnya terjadi. Sebuah mimpi harus diwujudkan dengan upaya yang berat. Yaitu melepasnya dari belenggu dunia bawah sadar untuk berada di dunia nyata. Dan pertaruhan untuk sebuah mimpi itu kadang terasa sangat besar dan berat.

    Orangtua Rama langsung memandang sebelah mata kepada Shinta. Disini kasta yang bicara, kondisi finansial yang bergaya, bukan keberanian dan keteguhan cinta. Karena cinta bisa dibeli, karena Shinta bukan bagian dari suatu rencana besar keluarga besar terhadap Rama.

    Tapi indahnya, bahwa sikap penolakan itu bisa dibahasakan dengan santun bukan letterlux maupun perubahan aura tubuh. Keluarga Wijaya adalah keluarga terhormat dan cerdas, intepretasi setiap bahasa bisa dibawa dengan retorika dan metafora. Kalau pihak yang dimaksud itu menyadari berarti dia harus pandai-pandai menempatkan diri dan mengoreksi niatnya. Tapi jika tidak juga sadar, namanya kebangetan…


    Eh, lalu bagaimana caranya Rama dan Shinta mempertahankan hubungan mereka? Bukankah sutradara sudah berjanji akan menyandingkan mereka dalam pelaminan? Kok justru menempatkan dalam posisi yang sulit. Apa mereka akan backstreet? Kawin lari? Ho ho ho …

    Selalu saya tawarkan kepada pembaca, bagaimana jika menghadapi posisi yang demikian, apakah ada solusi yang baik untuk semua pihak yang berkepentingan?

    Bersambung…

    Share this to your friends

    Leave a Reply

      

      

      


    You can use these HTML tags

    <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

    Maximum 2 links per comment. Do not use BBCode.