Inbound

  • Related

  • Japanese details from seed to ends

    Ya, tentu saja. Saya – atau mungkin anda juga mengenal Negara Jepang sebagai Negara yang maju dan memiliki penduduk yang cerdas dan kreatif. Hal ini tentu saja dibuktikan oleh berbagai inovasi yang telah mereka ciptakan sebagai produk industry maupun prototype impian untuk masa depan.

    Kenapa Jepang? Bukankah barometer kemajuan sebuah Negara sudah menjadi milik Amerika Serikat? Sayangnya kalimat tersebut tidak sepenuhnya benar. Karena Amerika Serikat sekedar Negara adi kuasa dalam hal pengaruh politik dan ekonomi. Urusan inovasi, maaf – mereka bukan pencipta Playstation, Walkman, kereta peluru (Shinkasen), dan lain sebagainya.

    Kehebatan Jepang bukan hanya terletak pada penerapan teknologi mereka dalam inovasi produk. Satu hal yang mungkin membuat Negara lain angkat tangan dan melempar handuk adalah kemampuan mereka menyelaraskan perkembangan jaman (teknologi) dengan perlindungan budaya (asset sejarah).

    Apa yang terjadi di Negara lain adalah ketika arus perkembangan jaman datang, dianggap sebagai tren kemajuan fungsional pendukung hidup umat manusia (dalam lingkup kewilayahan), justru menggerus adat dan budaya yang sebelumnya sudah ada sebagai tata cara dan norma kebanggaan berkehidupan leluhur mereka. Ambil contoh di Negara Indonesia ini, ketika datang sentuhan globalisasi modern, apa yang dimiliki sebelumnya (tradisi dan budaya) dianggap sebagai hal yang kuno dan merepotkan.

    Tapi tidak bagi warga Negara Jepang!!




    Ide tentang tulisan ini berawal dari ketika saya menyaksikan sebuah acara televisi channel NHK World, dengan program kampanye budaya Jepang menyambut musim semi di Jepang (yang biasa disambut dengan menanti bunga sakura bermekaran). Segmen acara tersebut disempitkan dalam pembahasan mengenai budaya pembuatan dan penggunaan drum tradisional.

    Apa yang saya lihat adalah sebuah ketakjuban tentang ketelitian mengenai setiap detil aspek yang berhubungan dengan drum yang terbuat dari kayu Taiko (begitulah kalau saya tidak salah dengar, maklum – kuping saya kadang memang agak lambat loading-nya). Karena itu disebut Taiko Drum, yang memiliki berbagai macam ukuran dan jenis sesuai daerah pembuatannya, fungsional-nya dan kemampuannya.

    Saya tidak perlu membahas jenis dan macam ukuran dari Taiko Drum tersebut, karena saya menitik beratkan tulisan saya ini pada kehebatan mereka untuk setiap detilnya.

    Taiko drum dibuat dari kayu Taiko (seperti yang sudah saya sebut diatas) yang telah berumur minimal 100 tahun hingga 300 tahun. Kenapa? Karena pada umur tersebut kepadatan serat kayu diperoleh secara maksimal. Sebenarnya teori seperti ini bisa diterapkan untuk semua jenis kayu. Tapi kalau menggunakan kayu jati, namanya bukan Taiko Drum.

    100 tahun? Ya, satu detil ini segera menjelaskan bahwa nenek moyang mereka sudah memperhitungkan regenerasi mereka untuk melestarikan Taiko Drum. Detil berikutnya adalah, setiap satu pohon Taiko ditebang, ada kewajiban untuk menggantikannya dengan bibit Taiko yang baru. Untuk anak cucu mereka. Hebatkan? Bagaimana dengan Indonesia? Argh, disini sudah cukup dikenal dengan bermacam kasus illegal logging.

    Sebelum pohon Taiko ditebang, diadakan suatu ritual khusus dengan menyiramkan sake (minuman keras khas Jepang) mengelilingi batang pohon, dengan tujuan penyucian. Lupakan adegan mistis ini. Hikmah yang perlu diambil adalah mereka tidak asal tebang saja. Sebelum proses penyucian tersebut terjadi, tentu saja proses pemilihan pohon sudah dilakukan dengan seksama dan berbagai tahapan seleksi.

    Selaras perkembangan jaman, proses pembuatan Taiko Drum juga menggunakan peralatan modern yang cukup canggih. Hal ini bukanlah fakta absolute mengingat selalu saja ada industry rumah tangga di setiap lini produk industry. Detil ketiga yang saya kagumi adalah perhitungan mereka terhadap kekuatan resonansi dan amplitude dari drum tersebut, bukan sekedar nada yang akan diciptakan karena besar kecil drum.

    Anda mungkin tidak akan menyangka bahwa mereka memahat manual bagian dalam kayu drum tersebut untuk menciptakan alur getaran suara. Tidak ada yang tahu saat drum itu sudah jadi, bahwa bagian dalam drum itu terdapat pahatan rumit seperti sisik ular atau jalur-jalur zigzag yang mempengaruhi resonansi suara yang dihasilkan. Sungguh pemikiran yang bahkan mungkin tidak pernah terpikirkan oleh produsen drum modern.

    Detil berikutnya adalah membran yang digunakan sebagai penutup, atau bagian yang dipukul (ditabuh). Adalah kulit sapi pilihan dengan proses pengawetan yang cermat untuk menghasilkan kerenggangan yang tepat. Dari mana kulit itu didapat? Tentu saja dari peternakan sapi yang sudah memiliki kategori khusus pada sapi-sapi mereka (diternakan untuk apa), yang tentu saja ditentukan dengan dukungan pemeliharaan (tempat, pakan, higienitas dan juga cara pemotongannya).

    Kemudian bagaimana tehnik pengawetannya? Tentu saja dengan formulasi yang cermat untuk hasil yang diinginkan. (seingat saya, di Jepang – toleransi produk yang boleh mengalami pelencengan kualitas hasil hanyalah sekitar 3% dari target).

    Pada tahapan pemasangan membran dan proses finishing Taiko Drum, tidak begitu spesifik mengagumkan bagi saya. Karena tentu saja tahapan ini memiliki perbedaan metode untuk setiap wilayah dan budaya di dunia ini (berhubungan dengan cita rasa dan apresiasi).

    Yang menarik justru bahwa drum ini digunakan TETAP sebagai alat musik penyelenggaraan pelestarian budaya yang sudah telanjur mengakar dalam nadi setiap warga Jepang. Di dukung dengan regulasi pemerintahan mereka dan factor edukasi yang diterapkan dalam institusi formal maupun informal.

    Jadi, takkan jarang kita melihat pemuda atau remaja Jepang yang gemar dengan salah satu budaya mereka. Karena praktik yang dilaksanakan bukan merupakan tuntutan atau sekedar basa-basi saja, melainkan suatu kenikmatan dan keindahan (bahkan ada yang menyentuh aspek kesehatan).

    Lanjut ke detil berikutnya. Seperti yang saya singgung diatas mengenai penerapan edukasi dan juga sentuhan aspek kesehatan. Saya sangat terkesan ketika melihat Jepang telah melakukan inovasi cerdas dengan mengawinkan budaya Taiko Drum dengan teknologi. Apa itu? Tentu saja sesuatu yang modern dan menyenangkan : ialah video game.

    Jika anda tahu atau mengkin gemar dengan permainan tari (senam) yang menuntut anda untuk menekan (menginjak) tombol-tombol tertentu sesuai irama dan perintah yang tertera dalam layar yang terus bergerak dengan tempo dan tingkat kesulitan tertentu, anda tidak akan kaget jika hal tersebut diaplikasikan pada sebuah drum. Ya, irama yang digunakan adalah lagu-lagu tradisional dengan berbagai jenis tempo dan kesulitan.

    Dengan menggenggam stik pada setiap tangan anda, anda bisa memukul drum sesuai letak yang diperintahkan dalam layar. Tentu saja sesuai irama dan birama yang ditentukan dalam lagu. Apa yang terjadi? Bukan sekedar ketangkasan yang diperoleh, pelestarian budaya dan penumbuhan rasa senang dan bangga terhadap tradisi juga didapatkan disana.

    Tehnik seperti itu juga diterapkan untuk fisio-terapi bagi para penderita struk untuk melatih respon anggota tubuh mereka. Dan apa lagi yang didapatkan? Sebuah terapi kesehatan yang cerdik dan menyenangkan. Tentu saja tempo dan kesulitan yang diterapkan lebih diturunkan menyesuaikan kemampuan respon penderita struk pada umumnya (yang sudah lanjut usia).

    Detil terakhir yang membuat saya terkesima adalah tata cara memukul Taiko Drum. Ini bukanlah sebuah peragaan seni bela diri, tapi dibutuhkan posisi kuda-kuda yang tepat, fokus pikiran dan tenaga yang mumpuni. Dan apa yang dihasilkan? Sebuah getaran suara yang menakjubkan yang tidak hanya menggetarkan kaca bangunan dan hati anda, tapi mungkin juga anda perlu menyingkir untuk membiarkan gelombong suara dahsyat itu lewat tanpa menghempas anda.

    Tehnik seperti ini sebenarnya juga merupakan seusatu yang relevan pada lingkup kewilayahan, tapi hal tersebut tetap membuat saya takjub.

    Akhir acara, saya bergumam : “Jepang memang kurang ajar!!”. Kurang ajar dalam pengertian positif. Yaitu kemajuan mereka yang hebat dengan penghormatan budaya yang tetap dijaga.

    Proses yang terjadi mulai dari bibit – pembuatan – penggunaan – hingga proses regenerasi kembali, sudah menjadi daftar kegiatan mereka dalam sebuah inovasi. Apa yang bisa dilakukan Negara Indonesia? Ketika nilai luhur budaya mulai ditepikan, ketika anak mudanya sudah tak mau lagi mengenal tradisi yang membesarkan bangsa mereka.

    Negara yang besar bukan hanya Negara yang menghargai pahlawannya, tapi juga melestarikan asset yang dimiliki (termasuk budaya).

    Kapan Indonesia bisa selangkah lebih baik dari Negara lain? Sejengkal lebih baik daripada Jepang… jangan hanya bergumam dan bermimpi, wujudkan dalam tindakan nyata!! Hidup Indonesia !!

    Share this to your friends

    Leave a Reply

      

      

      


    You can use these HTML tags

    <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

    Maximum 2 links per comment. Do not use BBCode.