Inbound

  • Related

  • DIskon 100%

    Diskon, adalah kata serapan dari bahasa Inggris : Discount. Berasal dari kata “Count” yang berarti “Hitung“, dibentuk negatif dengan imbuhan (awalan) “Dis” yang berarti “Tidak“.

    Secara harfiah, Discount bisa diartikan menjadi “Tidak Dihitung“. Lho, apanya yang tidak dihitung?

    Anggaplah, anda sedang berada di sebuah mal yang sedang merayakan sesuatu dan menerapkan diskon 50% untuk semua barang (all item) yang dijual disana. Jika anda tertarik pada sebuah celana jeans seharga Rp. 400.000,- maka berapakah yang mesti anda bayarkan di kasir?

    Saya yakin hitungan matematika anda sudah langsung berjalan dengan mudah dengan cerita diatas. Tentu saja anda hanya akan membayar Rp. 200.000,- saja, tidak perlu saya jabarkan perhitungannya. Tapi bagaimana konsep kata Diskon alias Discount tersebut berlaku pada cerita diatas?


    Seperti yang sudah saya jelaskan diatas, Diskon berarti “Tidak Dihitung”. Dengan variabel angka 50% yang mendampingi kata Diskon tersebut, menyatakan bahwa sejumlah 50% dari harga yang tertera di label akan TIDAK DIHITUNG dalam pembayaran. jadi anda hanya perlu membayar sisa 50% yang dihitung.

    Di beberapa kondisi nyata, dalam percakapan non-formal kita akan menemui padanan kata dari Diskon yaitu “Korting“. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, tidak dinyatakan asal muasal kata “Korting” tersebut. Namun setidaknya terdapat informasi bahwa Korting merupakan anonim dari bahasa Belanda, “Nomina” yang berarti “Nilai” atau “Harga“. Bukankah secara etimologi kata Diskon dan Korting menjadi memiliki makna yang berbeda???? Tapi secara de facto, KBBI menyatakan bahwa definisi dari “Korting” adalah “Potongan Harga“. Yang aneh siapa ya?

    Dalam penerapannya, kata Diskon dan Korting dijadikan kata yang bisa saling menggantikan karena diasumsikan memiliki arti yang sama. Contoh : Diskon 50% sama dengan Korting 50%

    Di luar negeri, kata Discount merupakan jebakan emosional yang sudah diketahui umum. Karena logika harga $200 dengan Discount 50% menjadi hanya tinggal $100 tidak akan ditemui. Kenapa? karena pihak manajemen penjual langsung menyematkan label baru dengan harga yang menurut mereka sudah mendapat potongan harga senilai angka persentase yang dipromosikan, meskipun ternyata barang itu menjadi berharga $120. Itu kan tidak sampai potongan 50%? benar jika anda tahu harga awal sebelum dikorting.

    Maka dari itu, untuk menyiasati trik dagang untuk menarik pembeli yang mudah belanja hanya karena promosi dengan embel-embel “%”, pihak penjual biasanya akan menghilangkan kata Discount, lalu digantikan dengan tambahan kata “Off” dibelakang nominal %. Maksudnya? tentu saja bermakna sama dengan kata Discount semestinya, karena “Off” disini akan didefinisikan sebagai “Hilang“. Apanya yang hilang? jawabannya pasti harga.

    Jika sebuah televisi $200 dengan promo “up to 50% off“, maka harga yang anda bayar hanya $100. Ingat, nominal % dari harga akan dihilangkan dalam pembayaran.

    Dibeberapa kondisi, kata “Sale” juga akan menghiasi spanduk – pamflet – backdroop – dan poster promosi potongan harga. Nah, bukankah “Sale” berarti “Jual“, kenapa dianalogikan dengan diskon?

    Mungkin perlu dijelaskan sedikit mengenai “mentality” dari sistem perdagangan yang global di seluruh dunia. Bahwa Penjual (Market) tidak menjual sesuatu hal pun pada Pembeli (Konsumen), melainkan Menawarkan (Providing) sesuatu hal yang mungkin konsumen butuhkan dan bersedia menngeluarkan uang untuk mendapatkan kebutuhannya tersebut. Ketika Market menjual (Sell), maka ia akan memberikan sugesti-sugesti yang persuasif untuk mengajak konsumen menghamburkan uang di tempatnya. Kapan dan bagaimana Market menjual dan bukan menawarkan? tentu ada beberapa alasan khusus yang dimiliki market sehingga ‘memaksa’ ia melakukan “Sell” bukan sekedar “Providing”, misalkan stok berlebih, pergantian tren, perayaan sesuatu, dan lain sebagainya.

    Apa yang membedakan dan menyamakan kata “Sell” dengan “Sale“? adalah sugesti persuasif yang diberikan Market kepada Konsumen terhadap barang yang ada, dibutuhkan maupun tidak.

    Terlepas maupun terkait pada keadaan nyata, baik yang benar secara matematis maupun yang berupa jebakan emosional, promo potongan harga dengan kata apapun yang tertera disana selalu akan menjadi daya tarik hebat bagi para konsumen, entah dia butuh barang tersebut ataupun tidak. Dan, tidak bisa dipungkiri bahwa kaum hawa adalah korban terbaik untuk semua promo potongan harga.

    Sampai ada sebuah anekdot : “Perempuan akan membayar $1 untuk barang yang mungkin tidak dia butuhkan hanya karena ada promo diskon“.

    Just for sharing knowledge and fun, don’t be mad :)

    Share this to your friends

    6 comments to DIskon 100%

    Leave a Reply

      

      

      


    You can use these HTML tags

    <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

    Maximum 2 links per comment. Do not use BBCode.