Inbound

  • Related

  • Dilema Ujian Akhir Nasional

    Disini saya bukan berpendapat sebagai siswa yang sedang dirundung kepanikan menjelang Ujian Akhir Nasional (UAN atau lebih singkat UN, atau terkadang disebut UASUjian Akhir Sekolah), saya pun bukan seorang wali murid yang ikut cemas ketika anaknya mesti bersiap menghadapi tes akhir tersebut (saya masih muda dan single – obral status!…)

    Disini saya berpendapat sebagai rakyat biasa yang miris melihat berbagai perkembangan yang terjadi dalam kontroversi pelaksanaan UN di bidang pendidikan persekolahan di Indonesia, yang katanya untuk mengejar kompetensi demi men-sejajarkan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia dengan SDM dari Negara lain (eks-patriat), seiring derasnya arus globalisasi sektor ekonomi.

    Sejenak kita tepikan dulu masalah makro tersebut. Yang kita hadapi sebagai rakyat biasa adalah kondisi mikro mengenai perasaan gelisah dan takut menghadapi UN, yang katanya kini memiliki standarisasi nilai rata-rata minimum 5,5 (naik 0,5 dibandingkan tahun ajaran sebelumnya).

    Para siswa yang duduk diatas ujung tanduk mulai panik dan gugup menghadapai momen UN yang seolah-olah merupakan adegan Sudden Death. Yang berhasil lolos akan melanjutkan perjalanan hidup, sedangkan yang gagal akan masuk kotak dan terkucilkan. Gemuruh keluh kesah disela persiapan mereka menghadapi UN begitu membahana ketika berada di jam sekolah, saat berada di bimbingan belajar atau les (regular maupun privat), ketika sedang belajar sendiri/kelompok, hingga waktu mereka sedang di masa-masa senggang diluar jam belajar mereka.

    Sistem filtrasi kelulusan siswa yang begitu berat dengan standar nilai minimum yang (menurut mereka) terlalu tinggi – setiap tahun meningkat, menjadi alasan kuat mereka untuk khawatir, depresi dan dalam ancaman ketakutan. Bahkan beberapa ulama pun memutuskan fatwa HARAM untuk pelaksanaan UN yang menuru kesimpulan mereka justru berdampak buruk (madharat) bagi perkembangan (mental/kejiwaan) siswa.

    Orang tua yang melihat kegamangan kejiwaan anak-anak mereka pun ikut terbawa suasana. Selain dengan mengenjot anak-anak dengan jam belajar yang ketat, bimbingan/les yang lebih signifikan, dan yang paling parah adalah dengan memprotes kebijakan pelaksanaan UN tersebut kepada pihak sekolah, depdikbud, hingga pemerintah yang makin amburadul dengan Century Gate.

    Jadi sebenarnya apa yang salah disana? Siapa yang mesti dipersalahkan dengan buruknya hasil yang diperoleh siswa-siswa yang tidak lulus itu? Begitu kejamkah pelaksanaan UN ini?


    Bercermin pada diri saya sendiri, 10 hingga 16 tahun yang lalu. Ketika sekolah masih dianggap suatu investasi besar dan mahal (belum ada istilah dana bantuan BOS), ketika etika dalam pendidikan masih cukup tegas, ketika ujian akhir masih bernama EBTA dan EBTANAS. Hahaha… Saya masih teringat beberapa kebodohan saya yang cukup jenius dimasa-masa menegangkan itu.

    Saya bukanlah murid yang cerdas, pintar maupun rajin. Belajar adalah suatu istilah yang super langka untuk saya lakukan – PR saja saya kerjakan disekolah, sebelum bel masuk menjerit. Saya lebih cenderung bisa disebut bebal dan bodoh. Tapi saya adalah bocah yang selalu berusaha beradaptasi dengan baik.

    Sekolah di sekolah favorit (tempat kumpulnya murid-murid pintar dan kaya), saya berusaha mengimbanginya dengan berbagai trik – dan ketika saya berada di sekolah biasa saja, ya… ngikut biasa aja. Pepatah yang dipegang bukanlah “Dimana bumi dipijak, disana langit dijinjing” – melainkan “Tak apa menjadi terbelakang dibarisan terdepan, atau menjadi terdepan dibarisan terbelakang”.

    Nyatanya, pun jika peraturan standar minimum kelulusan diterapkan dulu – saya masih lulus dengan tenang (SD à 7,7 ; SMP à 6,8 ; SMA à 6,7). Hebat bukan? Lalu apa yang membuat saya dan rekan-rekan sejaman saya bisa melewati ujian itu dengan mudah?

    Tentu saja, selain belajar ketat menjelang ujian – kami adalah murid-murid yang licik dan menghalalkan segala cara untuk menghasilkan nilai rata-rata sekolah yang imbang dan merata untuk semua teman sekelas. Yang ini bukan hal yang patut ditiru, hehehe…

    Tapi intinya adalah suasana dan kondisi yang sangat mendukung motivasi kami untuk memperoleh nilai terbaik, BUKAN SEKEDAR LULUS SAJA !!! dan suasana itu semestinya ada saat ini – Suasana yang hilang sejak sekolah gratis dan faktor pendidikan intern keluarga yang berubah (memburuk).

    1. Kami sekolah mesti membayar dengan harga yang tidak murah. Dan harga itu harus kami bayar dengan prestasi dan peningkatan kemampuan (naik kelas/lulus). Kami sebagai siswa ddan orangtua kami tentu tidak ingin uang yang dikeluarkan menjadi percuma atau justru nombok.
    2. Kami masih menghargai guru-guru kami sebagai sumber ilmu – sebagai orang tuayang perlu dicontoh (bagaimanapun buruk mereka dibalik profesi guru-nya). Kami adalah gelas kosong yang perlu air segar dari mereka, perlu polesan agar terlihat kinclong.
    3. Guru-guru kami masih punya tanggung jawab untuk masa depan kami (bukan sekedar nilai kami semasa sekolah). Mereka yang digaji minim itu belum direpotkan dengan dilema sekolah & perangkat pendukung gratis bantuan pemerintah seperti saat ini. Mereka masih bisa memperoleh sabetan lumayan dari proyek pengadaan buku dan sarana lainnya (tidak semua guru seperti ini)
    4. Orang tua kami masih mendidik kami dengan disiplin, bahkan tak jarang beberapa gerakan anggota tubuh mereka mengingatkan kami untuk fokus dan semangat. Hal tersebut kini menjadi larangan dengan tameng UU perlindungan anak dan KDRT. Bull s*** !!!
    5. Faktor pergaulan dilingkungan kami tidak separah jaman sekarang. Belum ada hape buat dipamerin ato bikin janjian bolos, aksi bullying juga ada cuma tidak begitu transparan seperti sekarang, genk-genk yang bertebaran bukan untuk anarkis atau melakukan hal-hal yang bodoh dan sia-sia.

    Dari sejumput gambaran suasana dan kondisi pendidik di jaman saya, apa yang bisa anda simpulkan jika dibandingkan dengan jaman sekarang? Saya punya pendapat saya sendiri;

    1. Sekolah gratis menyebabkan orangtua murid tidak memiliki beban material bahkan moral terhadap perkembangan prestasi pendidikan anak-anak mereka. “Yang penting anakku berangkat sekolah setiap pagi, pulang ke rumah kalau sudah selesai”. Apa mereka peduli apa yang anak-anak mereka lakukan begitu keluar rumah? Anak-anak pun nggak kalah cuek dengan pendidikan mereka sendiri. HEBAT !!!
    2. Guru tidak lagi punya martabat di hadapan siswa-siswa-nya. Kenapa? Menurut saya ada dua fakta yang menyebabkan itu. Pertama adalah factor ekonomi sang guru. Dia bukan berasal dari basis pendidikan sebagai pendidik, tapi karena lowongan kerjaan yang ada hanya guru – terpaksa. Dan jadinya, profesionalisme mereka sendiri justru bisa dipertanyakan oleh murid-murid sendiri. Kedua, adalah faktor etika. Entah yang salah gurunya atau muridnya, yang jelas – kedua subyek itu semestinya bisa menjaga diri (red: ja’im) terhadap proporsi yang mereka miliki.
    3. Karena sekolah gratis, guru yang materialistis bingung mencari tambahan pemasukan. Stress dan depresi, jatuhnya pada etos kerja mereka yang menurun. Bukan hanya karena kapasitas mereka belum cukup memenuhi standar kompetensi (termasuk fasilitas sekolah juga), tapi juga etos kerja yang menurun. Bukankah ini boomerang yang cantik?
    4. Orang tua jaman sekarang sudah punya banyak kesibukan terlepas dari perkembangan pendidikan anak-anak mereka. Para bapak asik menyimak perkembangan politik Indonesia yang kian carut marut, sementara para ibu terlena dengan sinetron-sinetron busuk dan gosip-gosip tolol dari infotainment.
    5. Pergaulan jaman sekarang begitu canggih dan kompleks, sehingga anak-anak jaman sekarang butuh materi lebih untuk membayarnya, butuh waktu lebih untuk beraktivitas bersamanya, butuh tenaga dan perhatian lebih untuk menjadi bagian yang patut diperhitungkan (diperhitungkan secara tolol…) – sehingga konsentrasi pendidikan mereka sendiri justru dikesampingkan. Sangat pintar kan?

    Kemudian apa yang bisa kita perbuat? Apa yang perlu pemerintah perhatikan? Setiap orang tentu saja punya pendapat masing-masing kan? Dan tentu saja saya punya pendapat juga;

    1. Hapus saja dana bantuan BOS yang justru menjadi dilemma dan kecemburuan social. Belum lagi penyelewengan yang banyak terjadi sebelum jatuh ke tangan siswa yang membutuhkan, mungkin hanya tersisa sekitar 50% dari yang semestinya.
    2. Tetap laksanakan UN dengan standarisasi yang kompetitif. Globalisasi perekonomian adalah aspek makro yang perlu diperhatikan dalam jangka panjang, mengingat pendidikan sebagai bekal pekerjaan.
    3. Institusi pelaksana pendidikan/persekolahan negeri maupun swasta harus bisa segera menyesuaikan diri dengan proses kemajuan yang datang. Jangan hanya pemikiran pribadi saja yang maju, gunakan itu untuk kemajuan bersama. Kompetensi bukan semata mengenai penyamarataan kualitas siswa daerah dengan pusat, tapi adalah proses dari katalisasi percepatan kemajuan daerah tertinggal.
    4. Para siswa mestinya bisa berkaca diri. Jika kawan-kawannya yang lain bisa kenapa kalian tidak?! Jangan berlindung pada potensi yang berbeda tiap individu. Fillipo Inzaghi tidak mempunyai bakat sepak bola seperti yang dimiliki Maradona, tapi dia belajar keras untuk bisa menjadi pemain sepak bola professional yang diperhitungkan. Kalian jangan hanya manja dengan ketakutan yang kalian bangun sendiri. KALIAN PIKIR KAMI (senior kalian) TIDAK MENGALAMI HAL SEPERTI ITU DULU? Kami dulu bisa dipukul jika gagal, kalian? Berlindunglah pada UU perlindungan anak dan KDRT…
    5. Orang tua juga mesti peduli pada setiap detil perkembangan yang terjadi pada anaknya. Tidak sekedar lepas tanggung jawab kepada guru sekolah yang mendidik di sekolah. Lalu apa yang kalian lakukan? Enak-enak bikin anak lagi? Dengan gelombang mengerikan perkembangan segala lini kehidupan kita, mestinya anda semua justru lebih perhatian disbanding orang tua kami dulu yang lebih mudah mengawasi dan mengendalikan kami.

    Hmmm, ternyata panjang juga tulisan saya kali ini. Sebuah pemikiran dan pendapat yang meledak-ledak saat dikeluarkan dalam tuts-tuts keyboard notebook saya.

    Semoga bahasan saya ini menjadi pemikiran yang positif bagi kita semua. Untuk kemajuan bangsa kita kelak – karena masa depan kita ada di tangan mereka yang kini masih bersekolah.

    Jangan sampai mereka dicekoki oleh ketololan dan kekejaman yang diperagakan oleh pejabat-pejabat  disana. Mereka adalah pondasi tempat kita menitipkan Negara, bukan tiang hampa yang ditinggalkan dan tak berarti.

    Jika anda punya pendapat, silakan berkomentar. Kita semua tentu ingin Indonesia ini lebih baik, lebih maju dan cerdas. Thanks.

    Share this to your friends

    Leave a Reply

      

      

      


    You can use these HTML tags

    <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

    Maximum 2 links per comment. Do not use BBCode.