Inbound

  • Related

  • Blog penghina Islam

    Banyaknya pesan di akun Facebook saya mengenai Blog penghina Islam (tidak perlu saya sebutkan URL-nya), mereka mengajak untuk mengecam dan meminta bantuan untuk segera menyingkirkannya dari jagad Blogsphere. Akhirnya saya jadi tertarik untuk menyimak apa yang sedang mereka antipati.

    “Sampah apa lagi diciptakan oleh kita, umat manusia yang serba diliputi kebodohan yang sok tahu –  dosa yang dibanggakan?”

    Masuk ke halaman muka blog berbasis WordPress gratisan itu saya segera menemukan hamparan artikel-artikel yang membahas tentang Islam dan berbagai hal yang berhubungan. Oh, jadi begini caranya si pesakitan itu menghujat agama saya.

    Secara jurnalistik (padahal saya sendiri bukan pakar jurnalistik) dan etika penulisan, setiap artikel pada blog ini sama sekali tidak mencerminkan sebuah informasi. Beliau (sang pencipta dan pemilik blog tersebut) membuat setiap artikel dengan berbagai dasar (sumber) yang seolah dicuplik secara paksa, baik dari tulisan orang lain, bahkan hingga mengutip kitab Al Quran dan Hadist Rasulullah SAW. Tentu saja tujuan beliau adalah menemukan aspek2 kelemahan untuk menjelek-jelekkan Islam sebagai agama yang menjadi agama mayoritas di muka bumi ini (dan memang mayoritas adalah kaum miskin dan tertinggal/bodoh).

    Beliau dengan sengaja mencuplik berbagai sumber tersebut diatas, tapi sayangnya beliau hanya menggunakannya atau menyikapi informasi penting itu dari satu sisi, dari penilaian beliau sendiri. Perlu diingat bahwa “Anda selalu benar bagi anda sendiri, belum tentu bagi orang lain”. Filsafat keadilan itu mungkin tak dimengerti oleh beliau.

    Kita manusia yang baru bisa makan dan minum di muka bumi, mencoba mengoyak lembayung awan dan membongkar isi matahari. Ck, ck, ck …


    Saya, ummat muslim yang sempat meninggalkan Tuhan saya, menafikkan ajaran-Nya dan nyaris tersesat dalam doktrin tumpul – hanya bisa bisa istighfar ketika membaca artikel-artikel blog tersebut. “Dia belum tahu, dan mungkin memang tidak mau tahu”.

    Sebagai Pengecut, beliau memang sudah melengkapi diri dengan topeng dukungan fitur dunia maya yang bisa melindungi jati diri kepandirannya. Sebagai pencipta sesuatu, beliau hanya mengandalkan fasilitas gratis yang menggambarkan pemikirannya yang tak berharga, dan sebagai manusia beliau bukan orang yang percaya terhadap ke-Tuhan-an dan ajaran kebenaran (secara universal).

    Hal ini bisa dibuktikan bahwa beliau selalu membandingkan Islam terhadap kaum Bani Israel yang notabene adalah musuh lama dari aspek ajaran agama. Beliau adalah penganut Atheisme yang hanya ingin mengingkari setiap kebenaran dan bukti yang ditemukan. “Pokoknya kamu salah, dan saya selalu benar”.

    Beliau hanya menilik setiap bahasannya secara duniawi, yang tentu saja bukan sepenuhnya urusan kita (karena Tuhan sudah menjanjikan pilihan perjalanan kita hidup di dunia ketika kita dilahirkan, untuk mengumpulkan bekal hidup akherat nantinya. Semua agama pun pasti berpendapat yang sama).

    Saya adalah mantan pengingkar ke-maha-an Tuhan saya, Allah SWT. Tapi apa yang menyebabkan saya kembali adalah sebuah anugerah yang tidak akan pernah saya gadaikan hanya demi pikiran sempit tentang duniawi. Ini merupakan sebuah keajaiban yang mungkin tidak akan pernah diperoleh oleh satu manusia  berbanding sejuta. Sayangnya, beliau telanjur menutup mata, telinga, hati dan akal hanya demi segelintir teks kontroversial yang ceroboh dan tak mendasar.

    Ketika dia diingatkan, selalu saja dibantah dengan argumentasi pemutarbalikan fakta. Sekali lagi saya yakin beliau tidak percaya Tuhan, karena dia tidak tahu bahwa semua kitab ajaran agama di dunia ini adalah berbahasa puisi nan indah yang memiliki makna luas (tergantung bagaimana kita bisa berpikir jernih). Katakan pada saya, Kitab agama apa yang menggunakan bahasa letterlux (apa adanya)? Bukankah ini lagi-lagi membuktikan bahwa beliau ini orang tolol yang ingin terlihat pandai dengan analisa konyol.

    Dan anda tahu, sekonyol-konyolnya Albert Eistein ketika ditertawakan dan dihina ketika pertama kali memperjuangkan teori relativitas, dia bisa membuktikan secara empiris dan langsung secara terbuka- berulang kali – dan dengan tinjauan berbagai aspek dan sudut pandang ilmiah (itulah sebab dikenal sebagai teori relativitas), hingga akhirnya mata dunia terbuka dan percaya dengan pemikirannya yang jenius.

    Dalam lingkup Web-mastering, atau lebih tepat jika Blog-mastering di jagad Blogsphere, Blog penghina Islam dan hal-hal yang sehubungan tersebut hanya merupakan sebuah karya sampah yang kotroversial dan bermimpi meraih rating dan pengunjung yang signifikan. Apa tujuannya? Entah – itu adalah misteri dari sebuah kehebatan dunia internet.

    Memang terdapat trik mengenai mendongkrak pengunjung situs dengan menciptakan artikel yang kontroversial dan mengundang link balik (Link baiting). Tapi beliau menerapkan konsep Brainstorming artikel kontroversial ini dengan aplikasi yang mentah. Bukan berarti saya adalah pakar web/blogging – tapi ini sebagai pendapat individual saya.

    Konsep Brainstorming dan link baiting adalah metode pembuatan artikel dengan bahasan yang menggemparkan yang akan mengundang rasa penasaran dan ketertarikan orang untuk melihat, dan kemudian melakukan bahasan balik yang menghibahkan link balik kepadanya. Hal ini bisa kita analogikan pada kehebohan buku 2012 yang kemudian disusul dengan berbagai buku yang mengkritisi dan mematahkan teori buku tersebut. Ini sebuah trik cerdik yang sederhana tapi butuh pemahaman trend dan fenomena.

    Beliau belum cukup paham mengenai hal ini. Atau mungkin memang tidak peduli dengan etika tersebut? “Yang jelas kamu salah, kamu bodoh … Saya benar, tak terbantahkan”.

    Ah, tidak terasa cukup panjang saya menulis tentang blog penghina Islam itu. Memang dari dulu dan dimanapun, metode dan praktik terapan daur ulang sampah selalu dan pasti lebih lama – lebih rumit –lebih mahal daripada mengolah produk yang menghasilkan sampah (limbah).

    Kesimpulan utama yang bisa saya ambil tentang blog busuk itu adalah bahwa sang pemilik blog hanya ingin membuat statements pengingkaran setiap kebenaran – bahwa sang pemilik blog tidak beragama karena tidak berani membandingkan dengan agama lain, melainkan dengan suatu kaum (tapi tak perlu kita bahas lebih lanjut tentang perbandingan, bukan hal yang penting dan pantas dibahas) – bahwa sang pemilik tidak pantas menyandang predikat blogger maupun webmaster karena konten yang sampah – bahwa manusia terkadang bangga dengan kebodohan dan kesalahan yang dia miliki, menutup semua pintu masuk ilmu yang disuguhkan.

    “Ketika yang lain menawarkan jalan, Tuhan-ku menunjukkan tujuannya… ketika yang lain menawarkan keselamatan, Tuhan-ku memberiku jaminan garansi dan asuransi … ketika yang lain menghadiahkan kenikmatan, Tuhan-ku telah memberkahiku seisi bumi dan kehidupanku ini …”

    Kalimat diatas merupakan catatan penting dalam perjalanan hidup saya berdasakan pengalaman dan kenyataan yang saya alami ketika menjadi muslim – mengingkari – dan kembali menjadi muslim, insya Allah (semoga) menjadi lebih baik dan dilindungi dengan iman dan taqwa.

    Namun, bukankah kalimat tersebut juga bisa digunakan oleh anda yang beragama lain? Saya bukan berpaham sekuler, tapi saya menghargai pendapat dan paham yang dianut orang lain.

    Jadi, bagaimana sikap anda terhadap blog berbau penghinaan agama (bersangkutan dengan rasisme)?

    Share this to your friends

    Leave a Reply

      

      

      


    You can use these HTML tags

    <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

    Maximum 2 links per comment. Do not use BBCode.