Inbound

  • Related

  • Astri Wahyuningsih

    Aku baru mengerti satu kata yang selalu kau lagukan begitu tegas pada ku,
    Aku baru menyadari dimana letak yang semestinya aku perbaiki,
    Aku baru memahaminya saat kau bilang semua sudah terlambat …
    Aku tak berharap kau memberikan aku waktu,
    biar Tuhan yang memberikan aku kesempatan.
    Aku hanya berharap kau memberi aku pengertian,
    biar Tuhan yang menentukan perjalanan kita.

    Aku baru mengerti satu bentuk perasaan yang selalu kau serukan padaku ketika terlupakan,
    Aku baru menyadari apa yang seharusnya aku lengkapi,
    Aku baru memahaminya saat kau bilang semua sudah berlalu …
    Aku tak berharap kau membuka kembali buku lama kisah kita,
    biar kubawakan kau buku yang baru untuk kita tulis bersama.
    Aku tak berharap banyak pada pintu hatimu yang kini tertutup untuk ku,
    kau yang memiliki pintu dan kuncinya, aku hanya bisa mengetuknya.

    Aku memang egois,
    memaksakan kehendak yang tak bisa aku bagi kepadamu,
    melupakan kebersamaan yang sepatutnya aku bagi padamu,
    membiarkan kau sendiri menata jiwa untuk menyembuhkan luka hati.
    Dimana kesadaran ku saat itu?

    Aku telah melukai perasaanmu,
    membekas perih yang terbawa hingga kini,
    meninggalkan kenangan kelam yang membayangi,
    Dimana hatiku saat itu?

    Kepada satu orang,
    kepada satu-satunya perempuan yang mampu menyempurnakan aku,
    kepada satu-satunya perempuan yang mampu memahami dan mengubah aku,
    Kepada perempuan yang pernah aku lukai,
    kepada Astri Wahyuningsih,
    Sekarang kesadaran itu sudah kumiliki, hatiku sudah ku bawa
    Bagaimana keadaan pintu hatimu untukku?

    Aku melihat Tuhan dari hidupmu,
    aku menemukan jalan terbaik menuju hidup yang benar yang pernah jauh dariku.
    Aku merasakan surga dari perhatian dan kasih sayangmu,
    Aku mendapatkan semangat hidup dari setiap helaan napas mu,
    bukan bagaimana aku bisa hidup tanpamu,
    melainkan bagaimana aku bisa menjalaninya tanpa ada dirimu …

    Untuk yang pernah kita lewati dengan indah, aku sangat berterima kasih.
    Untuk yang pernah kita jalani dalam pedih, aku mohon maaf sebesar-besarnya.
    Untuk kesempatan yang belum ku dapatkan kembali, apalagi yang bisa aku tunggu?
    Untuk pengertian yang belum kau berikan kembali, berartilah hidup mu untukku.

    Hanya tiga perempuan yang sangat berarti dalam perjalanan hidupku hingga kini,
    bunda yang melahirkan aku,
    Kakak yang menyayangi aku,
    dan kau yang pernah mencintai aku …

    Aku berusaha memahami dirimu sedari aku belum mengenal nama mu,
    hingga sampai detik yang belum terjamah waktu.

    Share this to your friends

    Leave a Reply

      

      

      


    You can use these HTML tags

    <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

    Maximum 2 links per comment. Do not use BBCode.