Inbound

  • Related

  • 2012 Doomsday

    Frase diatas merupakan dua kata yang sering kita jumpai sejak buku “2012” karya Daniel Pinchbeck terbit mulai dari September 2007. Buku yang mengupas ramalan suku Inca dan Maya mengenai peristiwa akhir dunia, dengan perbandingan pandangan ilmiah berdasarkan beberapa fenomena alam yang terjadi dan catatan sejarah yang dimiliki.

    Pro dan kontra dari buku ini pun segera meledak dari para pemuka agama di seluruh antero muka bumi dan bahkan rakyat biasa yang memiliki definisi masing-masing mengenai misteri kiamat.

    Terlepas dari kontroversi yang tercipta, baik secara spiritual maupun material (perhitungan bisnis), saya menganggap buku ini sekedar sebagai buku bacaan dari sudut pandang pendapat ilmiah dan usaha membongkar rahasia dalam budaya kuno. Ini bukan buku pegangan maupun referensi terhadap kejadian nyata. Toh, itu hanya sekedar pendapat dengan analisa manusia saja.

    Ramalan itu berawal dari perhitungan umur dari kesinambungan hidup berdasarkan gejala alam dan tingkah laku makhluk hidup di bumi. Ramalan itu dipertegas dengan keywordTak ada yang abadi di dunia ini”. Jadinya pemikiran mereka (yang hidup pada jaman kuno) terbentuk stigma tentang akhir dari segalanya secara serentak dan cepat. Kemudian dilakukan perhitungan sistematis cara mereka untuk memperkirakan kapan masa itu akan terjadi.

    Bayangan kejadian terburuk pun diselipkan dalam ramalan tersebut. Dan perlu diingat bahwa mereka masih hidup dalam jaman Gerbang Dunia pertama, sehingga deskripsi mereka hanya terisi mengenai kehancuran sumber daya alam di sekitar mereka, yang biasa mereka manfaatkan setiap hari. Meledaknya gunung2 berapi, melelehnya gunung2 es, gempa bumi dimana-mana, banjir, angin rebut dan lain sebagainya.

    Ramalan tersebut kemudian ditemukan oleh para ilmuwan yang kemudian melanjutkan perhitungan kuno tersebut. Bedanya – para ilmuwan itu kini dibekali dengan perangkat modern dan canggih, catatan lengkap sejarah peristiwa di jagad raya, berkumpulnya para pemilik otak cemerlang dengan imajinasi tinggi, dan kemajuan ilmu pengetahuan.

    Segalanya pun disangkutpautkan untuk mendapatkan hasil perhitungan yang relevan. Jadinya, ya … seperti yang dijelaskan dalam buku 2012 itu.


    Namun belakangan, muncul ilmuwan-ilmuwan yang tidak sepakat dengan ramalan 21 Desember 2012 tersebut. Mereka segera menyangkal pendapat mengenai akhir dunia tersebut. Meskipun tetap tidak sejalan dengan sanggahan dari para pemuka agama di seluruh dunia (ya, karena teori yang mereka pegang memiliki dasar yang berbeda).

    Jika para pemuka agama berpaham bahwa segala sesuatu berbau kiamat merupakan bersinggungan dengan iman, dan merupakan misteri yang hanya diketahui oleh Tuhan – maka para ilmuwan kontra itu berpendapat bahwa kiamat yang akan terjadi di 2012  tidak akan separah seperti digambarkan dalam buku 2012 tersebut, dan bukan merupakan kiamat yang dijelaskan dalam kitab suci agama-agama di dunia ini. Maksudnya?

    Seperti yang dijelaskan secara sederhana dalam film 2012, bahwa matahari sebagai kumpulan gugusan bintang raksasa sudah cukup lama menyinari alam semesta ini dengan cahaya dan radiasinya. Semua itu digambarkan sebagai ion positif yang terus diterima planet bumi. Seperti yang kita tahu bahwa planet kita ini memiliki 2 kutub ion : Positif dan Negatif. Bayangkan jika planet kita dihujani terus dengan ion positif… Tiap hari turun hujan pun juga tidak berdampak baik kan?

    Selain karena efek rotasi selama milyaran tahun yang membuat planet bulat kita ini menjadi lonjong menyamping – hujaman ion positif yang terus diterima bumi, tentu saja berpengaruh pada bentuk dan komposisi bumi. Satu hal yang dirawalkan dan diperhitungkan secara ilmiah adalah pergeseran antar lempeng bumi yang terus terjadi dan makin menjadi belakangan ini. Seolah dalam buku 2012 itu, akan hadir masa dimana semua gempa itu dikumpulkan dalam satu tempo. Anda bayangkan saja sendiri …

    Hujan ion positif itu juga akan mempengaruhi daya ikat gravitasi antar planet, sehingga diramalkan akan terjadi suatu saat dimana salah satu planet atau bahkan semua benda antariksa terlepas dari ikatan gravitasi antar planet – keluar dari jalur evolusi -, dan tentu saja bisa mengakibatkan tabrakan antar benda langit. Bayangkan jika bumi ini disenggol sedikit saja oleh planet Jupiter …

    Pelepasan ion secara besar-besaran selama milyaran, bahkan mungkin trilyunan tahun sejak alam semesta ini tercipta membuat energy yang dimiliki matahari akan habis. Habisnya energy bukan berarti langsung padam seperti analogi pada lampu neon yang kita pakai. Ketika energy menyusut, volume matahari akan bertambah tanpa diimbangi penambahan massa. Proses ini akan menciptakan jilatan-jilatan energy yang bertebaran dari kulit matahari ke segala arah.

    Nah, disinilah kejadian 2012 yang diperdebatkan itu terjadi. Jilatan radiasi yang dalam film “Knowing” yang dibintangi Nicholas Cage itu sebagai cahaya pembakaran segala benda antariksa sebelum akhirnya matahari sendiri meledak dan hilang dalam sisa-sisa supernova – menurut ilmuwan yang kontra dengan pendapat dalam buku 2012 itu adalah bahwa Kiamat yang terjadi adalah ketika radiasi jilatan matahari itu merusak semua satelit buatan manusia yang berserakan di sekitar bumi. Karena radiasi merupakan radiasi ionisasi bukan materialisasi (setidaknya jika anda terkena langsung, anda hanya akan menjadi gila idiot – kanker – luka bakar – dan cedera lainnya, belum tentu lansung terbakar habis.

    Radiasi itu akan mengganggu kinerja satelit-satelit kita. Dan tentu saja akan mengganggu kelangsungan teknologi nirkabel yang kita miliki saat ini. Kita semua tahu bahwa teknologi nirkabel saat ini merupakan penopang utama untuk lintas data, informasi dan komunikasi. Bagaimana jika kita kehilangan segala semua sinyal selama 1 hari saja? Jangankan satu hari, satu jam saja mungkin sudah bagaikan kiamat.

    Dan hebatnya, radiasi itu tentu saja tidak sekedar mengganggu sinyal nirkabel. Karena mengandung ion positif (yang agresif), yang tentu saja sama dengan arus listrik dengan kekuatan besar. Anda bayangkan jika salah satu elektronik anda mendapat kejutan lonjakan energy listrik, maka alat tersebut akan rusak (terbakar semua komponen elekrik-nya), itulah yang akan terjadi pula dalam ramalan 2012.

    Jadi selain tanpa sinyal, kita juga kembali ke jaman purbakala dimana kita hidup tanpa konektivitas dan peralatan informasi/komunikasi. Kita kembali ke Gerbang Dunia yang pertama.

    Namun, rupanya ada sedikit mis-kalkulasi yang terjadi dalam perhitungan para ilmuwan itu. Ramalan 2012 itu ternyata ditunda selama setahun karena jilatan matahari belum cukup mencapai hingga planet bumi pada saat itu. Mungkin karena masih menderita sariawan, bau mulut dan gusi bengkak, sehingga jilatan lidah matahari tidak berani hadir tepat waktu (ke apotik dulu, beli obat).

    Prediksi itu bergeser hingga tahun 2013. Jadi buat yang masih percaya dengan kiamat akhir dunia ala buku itu – setidaknya mereka bisa hidup setahun lebih lama untuk menikmati dunia atau mencari bekal surgawi.

    Kesalahan perhitungan sudah dipublikasikan secara universal ke seluruh dunia pada bulan Desember 2009 lalu.

    Lalu bagaimana anda menyikapi kondisi ini?

    Share this to your friends

    Leave a Reply

      

      

      


    You can use these HTML tags

    <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

    Maximum 2 links per comment. Do not use BBCode.