Inbound

  • Related

  • 100% Genuine VS Duplicate contents

    Ada apa dengan pertentangan dua kategori diatas? Bukankah sudah jelas hasil dan resikonya? Bahwa konten original akan menghasilkan progress indexing search engine pada web kita akan menjadi bagus, sedangkan yang hanya bermodal konten duplikat akan terbuang dari index pencarian. Bukankah pengunjung selalu mencari hal-hal yang original?

    Oops, tunggu dulu. Dalam bahasan dibawah akan sedikit menguak mitos salah dan doktrin keliru mengenai duplikat konten. Jadi bagi yang merasa master of copy cat (sekaligus menyindir diri sendiri), silakan melanjutkan membaca artikel ini.

    1. Siapa yang punya 100% genuine content?

    Pertanyaan ini tidak akan bisa dijawab secara kontekstual jika anda menterjemahkan secara mendasar. Bahwa penemu lampu adalah Thomas Alfa Edison, tapi darimana dia punya ide untuk membuat lampu dari serat bambu yang membara karena energi listrik yang mengalir? Bukankah itu juga sama dengan proses pembakaran yang terjadi pada obor? Lalu siapa yang menemukan obor?

    Dari sini kita bisa berasumsi bahwa tidak ada yang bisa membuat suatu hal 100% asli di jaman sekarang, karena semua hanya berlandaskan suatu inspirasi oleh suatu hal yang sudah ada sebelumnya.

    Jadi apa yang anda yakini telah anda buat 100% asli dari pemikiran anda, coba anda renungkan kembali darimana asal ide anda tersebut.

    2. Hanya ada 27 alfabet di dunia ini


    Seperti halnya yang terjadi di dunia musik yang hanya memiliki 7 tangga nada, plus mayor – minor dan kres. Kesamaan yang terjadi antara konten satu dengan yang lain adalah kewajaran (kecuali jika memang niatan menjiplak). Jika anda membuat artikel tentang Google Adsense, anda akan mengalami kesulitan besar untuk membuat artikel yang sama sekali belum pernah disuguhkan orang lain.

    Yang bisa kita lakukan anda membuat artikel dengan bahasa yang berbeda, cara penyampain suatu bahasan dengan cara kita sendiri. Itulah yang seharusnya disebut 100% genuine. Dengan begini, meskipun sama topik bahasan (99,99% sama) yang membedakan bahwa adalah ketika “saya bisa” dan “anda mampu”. Bisa dipahami?

    3. Duplikasi tidak akan ditendang Google

    Betul!! Dalam Term of Services Google maupun beberapa mesin pencari lainnya tidak ada yang menyatakan bahwa website dengan konten duplikasi akan diabaikan dari pencarian. Yang ada dalam undang-undang mereka adalah bahwa “jika terjadi kesamaan isi dan maksud dari konten, maka prioritas diutamakan pada situs yang memiliki keabsahan terhadap artikel tersebut”. Darimana keabsahan tersebut bisa dideteksi oleh mesin pencari? Tentu saja dari umur arsip, popularitas, jumlah inbound link, dan lagi-lagi trafik.

    Jangan takut terbuang dengan memiliki konten duplikasi, anda hanya perlu menyusun trik lebih baik untuk mendongkrak posisi pada SERP agar lebih baik (kalau bisa melebihi situs aslinya).

    Hohoho, jika dari tiga poin diatas cukup membela para penjiplak (uhm, seperti saya) – atau sekedar dijadikan argumen legalisasi duplikasi konten, anda mungkin benar. Tapi ada beberapa hal yang perlu anda perhatikan jika berniat menyalin konten orang lain :

    4. Hati-hati dengan istilah Copyrights !!

    Ya, dengan adanya istilah tersebut pada suatu konten, maka setiap artikel dalam website tersebut memiliki perlindungan hukum dari para penjiplak (seperti saya). Dan jika ada orang yang melanggarnya, maka jika pemilik asli konten tersebut mengetahui – dia berhak menuntut penjiplak pada proses hukum. Masalah bisa jadi panjang…

    Lalu adakah caranya supaya tidak disadari oleh pemilik aslinya?

    Beberapa aplikasi generator kata seperti Wordflood, PLR generator dan lain sebagainya sudah banyak bertebaran di internet. Pada dasarnya aplikasi tersebut hanya membantu para penjiplak untuk mengubah beberapa kata dengan sinonim, tujuannya jelas – supaya tidak jelas-jelas kentara menjiplak.

    5. Etika dunia internet

    Setidaknya hal ini bisa menyadarkan anda (saya juga) untuk tidak menjiplak, atau mengurangi kegiatan tersebut. Karena jika pemilik asli suatu konten menyadari artikelnya telah anda jiplak tanpa konfirmasi sebelum atau sesudahnya, selain menegur melalui email atau komentar, bisa dikawatirkan ia akan memprovokasi webmaster lainnya untuk menjauhi anda, menghilangkan link anda, tidak lagi bersilaturahmi ke web anda. Bisa bahaya !!

    Pengunjung pun lebih menyukai hal yang baru bukan yang menyerupai. Bayangkan jika dalam 10 index hakaman pertama SERP Google menampilkan berbagai situs tapi memiliki konten yang nyaris identik.

    Solusinya, beri penghormatan pada pemilik aslinya dengan menempatkan anchor link ke situs nya, maka dia akan memberi ucapan terima kasih dengan mengunjungi web anda dan meninggalkan komentar yang baik.

    6. Menjiplak tidak ada tantangannya

    Ya, jika kita terus menerus menduplikasi konten orang lain untuk mengisi situs kita, maka kita akan kehilangan gairah menjadi webmaster (pemilik situs), kita seperti robot yang hanya mengambil dan meletakkan barang. Tidak ada perasaan kuat tentang ekspresi, inspirasi dan solusi. Tak ada pengalaman khusus yang bisa kita miliki karena hanya melakukan rutinitas.

    Lebih seru jika dimulai dari mencari inspirasi, membuka artikel, berekspresi, menyusun keyword didalamnya, memberi solusi, memancing pengunjung dan komentar, dan menjawab komentar. Aah, indahnya sebuah perjuangan…

    Nah, dari bahasan panjang diatas, bagaimana pendapat anda? Apa akan tetap setia sebagai master of copy cat? Atau berjuang sebagai Creator dan Innovator?

    Semoga apa yang sudah kita buat, kita tulis dapat memberikan sesuatu hal yang dibutuhkan oleh pengunjung, dan menghasilkan kepuasan tersendiri bagi mereka. Piss…

    Share this to your friends

    Leave a Reply

      

      

      


    You can use these HTML tags

    <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

    Maximum 2 links per comment. Do not use BBCode.